Showing posts with label random thought. Show all posts
Showing posts with label random thought. Show all posts

Feb 15, 2015

Writer's Block Pejuang Toga

Writer's Block? Kita pasti sering atau paling tidak pernah mendengar istilah yang satu ini. Menurut definisi umum, writer's block adalah kondisi di mana seorang penulis kehilangan kreatifitas menulisnya dalam memproduksi suatu karya. Bisa jadi penulis kesulitan untuk menuliskan ide originalnya, tidak tahu bagaimana melanjutkan ide cerita selanjutnya, sampai pada kondisi di mana ia tak mampu memproduksi karya dalam beberapa tahun lamanya.[1]

Saya sendiri bukan penulis profesional yang karyanya sudah banyak dinikmati dan bermanfaat bagi umat manusia seperti beberapa idola saya, sebut saja Darwis Tere Liye, Asma Nadia, dan Kang Abik. Saya hanya seorang penulis blog amatir dan masih harus terus menulis untuk skripsi saya yang tak kunjung tamat (baca: wisuda) :-) Untuk itu, izinkan saya berbagi pengalaman pribadi, juga pengalaman dari mahasiswa tingkat ahir yang senasib dengan saya, tentang bagaimana rasanya berputar-putar dalam lingkaran yang beberapa mahasiswa menyebut skripsi sebagai, #scriptsweet, #scriptsweat, bahkan ada yang menyebutnya #scriptsh*t. Jika saya boleh menyimpulkan, dan ini berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi, hehe, bahwa mimpi paling buruk dari lamanya proses mengerjakan skripsi itu ada pada diri kita sendiri, termasuk yang kita sebut sebagai writer's block.

Writer's block, gimana sih ciri-cirinya? Sekarang acungkan jari bagi yang mengalami beberapa dari kelakuan berikut, ya? hehe,

√ Kita menunda memulai mengerjakan skripsi hingga DEADline nyaris membunuh kita...(Procractination)

√ Kita tidak tahu apa yang harus ditulis, dan hanya memandangi layar kosong di depan mata... (Blank page syndrome)

√ Alih-alih mengerjakan skripsi, kita malah menyibukkan diri surfing internet, FB-an, twitteran, main game, nonton TV, dan aktivitas gak penting lain. (Fleeing)

√ Kita merasa kesulitan meng-evaluasi diri dan terpenjara dalam ketakutan draft yang tidak sempurna. (Perfectionism)

Sumber gambar


Hayoo, ngaku aja deh kalo kita sedang menderita beberapa sindrom di atas, hehe. Bukan untuk dijadikan bahan ledekan ya, tapi itulah yang terjadi pada beberapa dari kita; dan saya yakin seribu persen bahwa tak ada dari kita yang menginginkannya. Beberapa teman bilang kelakuan itu seperti terjadi begitu saja, tanpa bisa dikendalikan. Oke sobs, sekarang tenangkan diri, duduk manis, tarik nafas dalam-dalam, dan bersiap melanjutkan membaca biangkerok dari kelakuan di atas (bukan pembenaran, ya) berikut ini.

Menurut jurnal yang baru saya baca[2], bahwa writer's block ini lebih dari sekedar masalah mental. Pakar neurologi telah menemukan bahwa aktivitas otak tertentu yang dominan berpengaruh terhadap kreativitas menulis. Sebelumny sudah pada tahu kan ya, kalau otak manusia terbagi menjadi tiga sistem, yang masing-masing melakukan fungsi yang berbeda. Yang pertama, batang otak (lizard brain) yang terletak di pusat sistem dan berfungsi menjaga fungsi tubuh seperti respirasi, digesti dan sirkulasi. Yang kedua, sistim limbik (leopard brain) yang mengelilingi batang otak dan berfungsi sebagai pusat emosi terhadap input sensori, termasuk dalam memutuskan untuk melawan atau menghindar jika ada ancaman. Yang ketiga, cerebral cortex (learning brain) yang mengelilingi sistim limbik dan memberikan kemampuan dalam menyelesaikan masalah, menggunakan bahasa dan angka, mengantisipasi masa depan, memotivasi diri, dll. Batang otak tersusun dari otak tengah, pons, medulla, dan Reticular Activating System (RAS) yang berfungsi memonitor informasi yag masuk dari panca indera dan menyaring apa yang kita ingin perhatikan atau abaikan. Fungsi RAS dapat berubah-ubah dari sistim limbik ke cerebral cortex, atau sebaliknya, tergantung informasi yang masuk.

Nah, kreativitas, termasuk kreativitas menulis akan ter-aktivasi saat RAS meng-aktivasi cerebral cortex, saat informasi yang masuk bersifat menenangkan, kegembiraan, sehingga pada saat otak kita rileks, kita bisa berfikir dengan jernih, termasuk terinspirasi untuk menulis. Sebaliknya, jika informasi yang masuk bersifat kegelisahan, ancaman, maka akan meng-aktivasi sistim limbik, sehingga kita akan merasa resistan terhadap kreativitas; dengan kata lain, disitulah biasanya writer's block muncul. Jika sudah begitu, tak heran kita akan mengalami beberapa kelakuan yang sudah saya sebutkan di awal. Jelas sudah ya, bahwa sistim limbik dan cerebral cortex berkompetisi satu sama lain tergantung input yang diterima RAS.

Jadi bagaimana solusinya?

Bagaimanapun juga jangan dijadikan alasan untuk berhenti menulis skripsi ya. Ada banyak cara untuk mengobati writer's block yang direkomendasikan para ahli. Intinya hal ini penting untuk menjaga suasana hati yang tenang agar cerebral cortex ter-aktivasi.

Beberapa teknik berikut termasuk yang dianjurkan para ahli
1. Belajar mengatur nafas dalam-dalam dan perlahan selama 5-10 menit. Penelitian menunjukkan teknik pernafasan ini mampu membuat sistim limbik menjadi kurang reaktif (Davidson: 556-557).
2. Olahraga secara teratur terbukti dapat mengurangi stres, tak hanya baik untuk kesehatan, tapi juga untuk cortex;
3. Mencoba berbagai teknik menulis seperti freewriting, clustering, mind-mapping, branstorming, dll. Robert Olen Butler dalam bukunya, justru menganjurkan untuk melakukan 'dreamstorming' daripada brainstroming. Banyak siswa-penulis yang merasa lebih rileks saat mereka harus lebih banyak berimajinasi daripada menulis, untuk memulai menulis cerita.
4. Membuat rutinitas menulis se-rileks mungkin. Misalkan dengan mengunyah bulir lemon tiap kali menulis. Jika setiap kali kita menulis, dan kita selalu mengunyah bulir lemon, maka tiap kali pula kita melihat, mencium aroma, dan merasakan bulir lemon, otak kita akan ter-asosiasi dengan aktivitas menulis, dan ini akan membangkitkan semangat menulis (hukum Hebb, di mana saat neuron distimulasi bersama, maka selanjutnya akan selalu teraktivasi bersama).

Selain itu jika boleh saya tambahkan, sering-seringlah sharing dan diskusi dengan yang sudah berpengalaman, karena itu juga akan memberikan energi positif bagi kita. Jangan takut salah, (khususnya bagi penderita sindrom perfectionism), karena yakinlah, tidak ada draft yang 100% sempurna, yah, namanya juga draft; go and meet you advisor :)

Nah, sekarang gimana? udah lega-an belum?

Overall, menurut saya semua teknik atau stimulasi itu akan sia-sia belaka jika tidak diimbangi dengan do'a :) Bagaimanapun do'a itu sangat mujarab untuk membuat cerebral cortex kita kembali rileks, dan bukankah Allaah sendiri yang menjanjikan akan memperkenankan keinginan kita jika kita berdo'a? :) Kalau saya biasanya membaca do'a berikut, yang artinya,
"Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.”

Sekian, mudah-mudahan bermanfaat, ya script-fighter :)

Footnote:
[1]http://en.wikipedia.org/wiki/Writer%27s_block
[2]Bane, R. (2010). The Writer's Brain. Creative Writing: Teaching Theory & Practices

Tulisan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway blog Cokelat Gosong 



Jan 8, 2015

[ngigo']

"Gw ngerasa aneh ahir-ahir ini. Kayak bukan diri gw yang biasa, gw ngerasa ada yang beda. Kayak tiap kali gw mau ngomong baik, ni hati ama otak gw ribut mulu saling beradu hingga omongan yang jelek-lah yang ahirnya keluar dari mulut gw. Sistem kontrol gw kacau hingga ke titik nadir. Gw sibuk cari pembenaran atas omongan keji barusan. Gw kayak kerbau aja. Bukan karena gw bau, tapi karena gw ngerasa gak berdaya saat ego gw mencucok hidung gw dan gw cuma bisa pasrah. Tapi sebenanrnya gw sadar akan kemelut ini. Ada seseorang yang berusaha merasuki jiwa raga gw, berharap sisa hidup gw jadi belangsak. Seseorang itu ternyata punya nama. Gw sendiri sih yang kasih dia nama. Namanya 'Villain', lengkapnya 'the Evil Villain'....

[Cil], lo sebagai satu-satunya sohib gw, pasti lu ngerasa simpati ama gw sekarang. Bagaimana pun gw kan satu-satunya sahabat lo yang udah pernah kasih pinjeman cash buat lu bayarin tunggakan spp. *Eh, OMG, gw... kok jadi ngebahas itu sih? Sumpah gw gak ada niat buat ngungkit-ngungkit hal itu, Cil. Sumpah. Maafin gw yak. Oke, paling tidak lu percaya sekarang gw gak seperti yang dulu (cieh), barusan yang ngungkit-ngungkit pinjeman itu si Villain, Cil... please lo maapin gw.

[Cil], kenapa lo diem aja? Apa karena lu gk ngerti arah pembicaraan ini? Atau jangan-jangan, lu emang bingung 'Villain' macam apa yang lg gw ocehin? Hm, pastinya lu bingung, lu kan tau-nya villain yang ada di dongeng pengantar tidur itu, kan? atau villain yang ada di serial 'the Avengers', Marvel Oh Marvel...? Ngaku aja deh lu Cil, kalo lo itu penggemar berat Hulk? atau Capt. America, barangkali? Kalo villain yang ada di cerita narasi macam itu udah jelas gampang ditumpas ama para superhero, nah yang villain ini susaaaah pake banget, Cil. By the way, masak ia sih superhero itu sesempurna itu ya, Cil? mpe gak ada cela-nya. Pernah gak sih, lu bayangin superhero itu uring-uringan sebab gak bisa bayar tagihan listrik? sebab skripsinya gak kelar-kelar? (Ha! emang gw). Maksud gw, pernah gk sih superhero itu berada dalam titik jenuh, hingga ahirnya mereka ngelakuin tindakan konyol yang menyakitkan orang lain? Aih, tapi jangan samain gw ama superhero itu ya Cil, gw mah gak ada apa-apanya. Gw cuman... apa ya?... gw cuman 'watcher' aksi mereka, kayak elu :D

[Cil], elu masih terjaga kan? elu masih setia dengerin suara emas gw ini, kan, kan, kan? Hehe. Gw sih berharap elu jangan jauhin gw ya, meski sekarang gw dominan villain. Gw butuh sohib kayak elu Cil. Please, sering-sering ingetin gw buat 'muhasabah' cieee, gw baru berani pake ni bahasa. Yah, buat sering-sering instropeksi gitu deh. Gw sadar sebagai manusia biasa pasti adakalanya gw lelah, jatuh, tersungkur, penuh lumpur dosa, gw kacau, gw larut dalam kesesatan... Please, gw gak mau Cil, karena siapa tahu pas gw lagi belangsak gitu, sang ajal datang ngejemput gw dengan paksa, dengan berdarah-darah, dengan kesakitan yang luar biasa Cil... gw takut...

Tapi, elu beneran janji mau bantuin gw ya, Cil? bantu nyariin potongan puzzle yang bisa balikin hidup gw biar lebih baek. Tenang, gw kan cuma minta tolong cariin potongan puzzle, bukan potongan tulang rusuk, hehe...

[zzzzz...]

Jan 1, 2015

Si Tambun nan Pemalu

''...
eeeeeEEEEiiii
Cukuik, tarik, dorong, lagi!
Old Rhinini aches with the tree,
Awas, ke hilir, ke hilir, ke hilir
the pain without witnessed within
Hep, kiri-kiri! Alah! Jadi (thud)
the trunk her leg, the bough her limb
The breaking bough,
ark ark ark ark aaark!!!!
Smell.. (she sniffs the air) …the Fear
The little people flee
and I
in the still dark
my thudding heart
my bones a brittle thrum
Run, Run,
...''

Itulah sepenggal syair yang muncul di beranda web miliknya. Cukup panjang, namun tak ada apa-apanya dibanding penderitaan yang dialami si tambun yang pemalu itu. Aku mencoba menghayati tiap syair yang dideklamasikan langsung oleh pengarangnya, mencoba berempati tentang apa yang sedang ia perjuangkan.

''...Malang, sungguh tak kuasa melihatnya disakiti begitu...''ujarnya. Kulihat ia menangis, pandangannya jauh ke depan, bagai melihat peristiwa itu dengan jelas. ''Sakiiiit....'' ucapnya lagi sambil meletakkan tangan kanannya di dada kirinya. Lalu ia berdiri, dengan tatapan kebencian ia mengumpat orang-orang itu. Mungkin jika mereka ada di depannya saat itu, habislah mereka dilumatnya. Atau paling tidak, dijebloskannya dalam bui.

Lain waktu ia bercerita bagaimana ia sangat menyesal karena pernah membiarkan seekor capung yang sekarat akibat terperangkap kaca rumah. Awalnya ia memang menolong capung itu keluar, meletaknnya di atas telapak tangannya, dan mencoba merasakan apa yang dirasakan si capung. Matanya menyaksikan bagaimana si capung berjuang menyeret tubuhnya ke arahnya, seolah ingin mengatakan sesuatu. Dijilatnya jari telunjuknya dan dijulurkannya pada si capung. Air ludah itu langsung diseruput habis olehnya. Diberinya lagi dan lagi. Namun ia harus segera menyelesaikan urusan lain sehingga ia tinggalkan si capung di atas rumput di pekarangan luar, meskipun si capung masih terlihat lemah. Setelah itu ia tak tahu lagi tentang kabar si capung. Hal yang mungkin orang lain anggap sepele itulah, yang membuatnya justru sangat menyesali ketidakpeduliannya. 


Aku malu, kawan.
Malu pada diri sendiri yang penuh ketidak-pedulian ini. Betapa harus kita berkasih-sayang dengan makhluk sekecil capung. Ke mana saja aku selama ini? Padahal Sang Maha Penyayang telah berkali-kali berkata dalam Al-kitab untuk menyayangi makhluknya dengan baik? Saling menolong... Begitulah harusnya kita.

Baiklah kita tinggalkan sejenak cerita capung, marilah berkenalan lebih jauh dengan si tambun nan pemalu. Kata badak disematkan pada makhluk berperawakan tambun itu. Secara umum badak memiliki sifat pemalu (pada manusia) dan cenderung individualis. Di semesta ini, hanya tersisa beberapa spesies badak yang tersebar di Benua Afrika dan Asia; badak jawa, badak sumatera, badak hitam dan putih yang ada di Afrika Selatan. Masuk dalam kategori binatang yang terancam punah (endangered animal), sudah seharusnya badak dilindungi. Justru hutan sebagai satu-satunya habitat yang nyaman bagi badak, kini semakin ciut memprihatinkan dan telah berubah menjadi pemukiman, lahan pertanian, bahkan kawasan industri. Sungguh malang nian nasib si badak, rumahnya diusik, dan cula-nya direnggut secara paksa. Ya, kita akan berbicara lebih serius tentang kejamnya pemburu liar itu. Cula yang tumbuh di antara dahi dan atas hidung itu, yang sejatinya hanyalàh mirip tanduk, sebagai pertahanan diri badak, kini semakin banyak diincar manusia keji dan rakus. Bagaimana tak gelap mata, jika mereka bisa menukar satu kilo cula dengan harga di atas harga satu kilo emas.

Zaman edan, dalam satu kedipan mata, cula berubah menjadi emas berlapiskan mutiara. Sungguh menakjubkan. Satu lagi tumbal materialisme yang menjadi karib manusia bedebah. Biarlah kutunjukkan fakta yang bisa menguras air matamu, yang bisa (semoga) membangunkan kesadaranmu akan mengerikannya kenyataan di luar sana.

Kalian lihat gambar yang ada di paling bawah tulisan ini? Mungkin saja ada yang berkata apa-apaan ini! Memang apa? Yang kau lihat? Kematian? Sesederhana itu? Coba rasakan sedikit lebih dalam. Bagaimana jika kekejian ini tubuhmu rasakan? Diamputasi secara paksa... Dibor... Ditebas... Air matamu kalah oleh banjir darahmu sendiri, lalu perlahan atau dengan senapan kau harus tewas mengenaskan.

Mari sejenak kita simpan luka ini. Sekarang kita akan ikuti ke mana cula si badak dibawa. Kita telah sampai (dengan mengendap-endap) di black market Asia, pusat jual beli barang buruan illegal. Ada seorang pembeli yang menghargai satu kilogram cula itu dengan harga €50.000, padahal harga 1 kilogram emas hanya €31.000. Serbuk cula yang hanya mengandung keratin (zat kuku) itu telah dipercaya ratusan bahkan ribuan tahun lalu sebagai bahan obat tradisional Tiongkok atau TCM (Traditional Chinese Medicine) yang konon bisa menyembuhkan demam hingga mengobati kanker (padahal belum ada ilmuwan yang membenarkannya). Meskipun pemerintah Tiongkok sendiri sudah mulai tidak menggunakan serbuk cula lagi, nyatanya permintaan masih banyak. Mereka juga percaya cula badak bisa meningkatkan kejantanan. Pantas kita jumpai kakek-kakek borju bela-belain beli serbuk cula, ckckck.

Masih di pasar gelap, kita saksikan berbagai organ hewan eksotis ramai dibeli. Ada gading gajah yang dihargai $2,100 per kilonya tahun ini, bandingkan dengan harganya yang masih $750 per kilo tahun 2010 lalu. Ada pula kulit reptil, tengkorak monyet, tulang harimau, paruh burung, koral, kukang, kura-kura, hingga kaki kodok pun dijual secara illegal atas pesanan para chef restoran ternama di Perancis.

Ayo kita pulang saja, tak kuasa pula melawan mereka seorang diri. Kecuali jika semua komponen bersatu, tegas menegakkan hukum agar tak ada lagi para cukong bedebah itu. Tiap kita adalah penyelamat, yang akan mempertanggung jawabkan kepemimpinan ini di hadapan Tuhan. Bukankah Dia telah mempercayakan bumi dan isinya ini untuk dikelola oleh manusia?

Sekarang biarkan aku mengajakmu kembali menghayati syair di awal tulisan ini. Syair yang dibuat oleh seorang teman (Indija) yang peduli akan masa depan si tambun. Ia telah berbuat semampunya, menyuarakan hak perlindungan badak. Berlatar dunia seni, ia mencoba merangkai pesan dalam bentuk opera. Sungguh ciamik. Bagiku, langkah ini tak kalah eksotis dibandingkan mereka yang berkoar-koar dijalan menuntut turunnya harga BBM. Ya, seniman selalu punya cara kreatif. Bahkan dalamnya penjiwaan terhadap suatu fenomena, bisa lebih menyentuh hati siapa saja yang melihat, dan ikut merasakan. Seperti seorang seniman surealis, Salvador Dali, yang mengatakan bahwa cula badak adalah termasuk objek paling luar biasa strukturnya di alam, logaritma spiralnya membentuk kurva yang sama seiring pertumbuhannya. Pesan yang mirip tentang penyelamatan ekologi juga dikemas apik dalam sebuah film stereoskopik animasi 3D ''Delhi Safari'' yang menceritakan perjalanan lima binatang liar dari Mumbay ke Delhi untuk menanyakan sebuah pertanyaan penting tentang mengapa manusia merusak hutan hingga mereka harus kehilangan rumah.

Lalu aku, apa yang sudah kulakukan untuk ikut menghentikan kekejaman ini? Ah, mungkin malah ada yang menganggap tak perlulah seserius itu mengurus hewan liar. Urusan manusia pun tak kau jamah. Kawan, jangan pernah anggap remeh ya urusan menelantarkan bahkan memperlakukan hewan dengan keji... sebab bagiku, 'mereka yang memiliki kepekaan lebih terhadap penderitaan hewan, pastilah juga yang lebih peka terhadap penderitaan umat manusia'!

 Ahirnya kita sebagai umat manusia yang sempurna, apa yang sudah kita lakukan untuk melindungi binatang yang tertindas itu? Tidakkah kita sadari bahwa binatang-binatang itu juga adalah umat, sama seperti kita?
''Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan''
(QS. Al - An'Am :38)

Islam mengajarkan kita untuk menyayangi binatang, baik binatang liar, apalagi binatang ternak. Sebaliknya melaknat mereka yang menyiksa binatang. Biarlah kukutipkan hadist shahih agar menjadi pengingat untuk kita, untuk-ku, untukmu.


''Pada tiap sedekah terhadap makhluk yang memiliki hati (jantung) yang basah (hidup) akan dapatkan pahala kebaikan. Seorang muslim yang menanam tanaman/tumbuhan yang kemudian dimakan oleh burung-burung, manusia, atau binatang, maka baginya sebagai sedekah'' (Bukhari, Muslim)
''Allaah melaknat orang yang menyiksa hewan dan memperlakukannya dengan sadis''(HR Bukhari)

Semoga Allaah mengampuni segala kebodohan dan kelalaianku, aamiin.

Source: Dari berbagai sumber

Note: Tanggal 8 Januari mendatang, akan ada live-performance tentang kampanye #SaveRhino di TN Way Kambas, Lampung-Timur. Jangan lupa untuk hadir ya, hope to see you there :-) 

May 5, 2011

Kamis Malam

Kamis malam,

Jika kalian ingin melihat dunia malam sebagian mahasiswa di kampusku, pergilah melongok ke jalanan sekitar kampus pada Kamis malam. Ya, Kamis malam. Hari bebas sedunia untuk mereka. Setiap Kamis malam, club-club yang berada di Downtown akan memberikan tarif mahasiswa, yang pastinya lebih murah. Dan memang, Kamis malam itu dijuluki "college night". Rasanya aku harus secara pribadi menambah satu kata di belakangnya, yaitu "college night naudzubillah..."

May 4, 2011

Don't Fed up!

Free Writing, Jangan Berhenti Menulis. Tuliskan apa saja yang ada di pikiran. Jangan takut tidak terorganisir. Ini bukan masalah editing, ini masalah menulis.

###
Selalu Rabu yang membuatku kelelahan. Aku harus pergi ke kelas pagi jam 8.30 di gedung terjauh dari asramaku untuk kelas American Government, lalu segera disambung kuliah Jurnalistik di gedung paling jauh dari gedung pertama. Selesai dari kelas Jurnalistik, aku pasti mampir ke gedung pusat komputer untuk menggarap tugas yang lain. Saat ini aku sedang duduk di depan komputer, menyelesaikan essay untuk kelas malam nanti, Public Speaking. Hari ini ada sedikit kelegaan, karena kelas menulisku sudah selesai, tinggal belajar untuk ujian ahir minggu depan.



Aku selalu yakin, aku bisa mengerjakan semuanya tepat waktu. Yang menjadi penyakit akutku hanyalah suka menunda-nunda sampai menit terahir. Aku ini seorang procrastinator. Khususnya untuk urusan menulis, aku paling parah. Dengan dalih belum mendapatkan inspirasi, aku tak mau bersusah payah memaksa otakku untuk bekerja lebih awal. Pernah aku mencoba mengerjakan tugas ahir kelas menulisku, 2 bulan sebelum deadline pengumpulan, nyatanya tidak berhasil. Padahal tugasnya lumayan mudah, hanya diminta menuliskan cerita pendek sebanyak minimal 6 halaman. Sudah dipaksa untuk berfikir, tapi belum terbayang apa yang hendak ditulis. Tak ada ide. Buntu. Sampai berminggu-minggu selanjutnya, belum ada ide untuk tulisanku. Satu bulan lagi menjelang pengumpulan. Instruktur kelas kami meminta proposal cerita untuk tugas ahir. Hm, sedikit ada ide tentang cerita dua orang pemulung di negeriku. Aku sedikit ada gambaran mau dibawa ke mana alur ceritaku. Instrukturku menyetujui, dengan catatan cerita ini adalah fiksi literatur, jika aku bisa membawanya dalam nada yang tidak hipotetikal dan tidak klise. Aku mengiyakan saja.

Dua minggu berlalu. Aku belum melanjutkan cerita itu. Sebenarnya sudah kucoba minggu sebelumnya, namun rasanya banyak hal yang tidak aku ketahui dari dunia pemulung. Aku cari bahan lewat internet, majalah, jurnal, koran, blog, dan lain-lain. Tidak kutemukan gambaran utuh tentang mereka. Tapi bisa juga karena ku tidak teliti saat browsing. Ahirnya satu minggu sebelum pengumpulan, aku mendapatkan ide baru. Kutulis draft ceritaku dalam waktu semalam, sampai sedikit begadang. Keesokan harinya aku harus pergi memeriksakan grammatical error dari tulisanku. Memang ahirnya selesai tepat waktu, tapi pasti kurang perhatian. Untunglah ada waktu satu bulan lagi untuk merevisi draft cerita kami setelah dipresentasikan di depan kelas. Aku berjanji tak akan lagi menunda-nunda, harus memaksa otak tumpulku untuk berfikir mengedit, mengedit, dan mengedit. Apalagi saat tak sengaja mataku membaca deretan mimpi yang tertulis rapi di atas secarik kertas yang menempel di meja belajar, "Penulis Novel Religi Best Seller". O really? Segera kuambil cerita pendekku dalam Bahasa Inggris itu. Kuamati dengan cermat. Kuutak atik ide-ide yang kacau, kuperbaiki alurnya, kubuat tambahan yang menguatkan karakter masing-masing nama dalam cerita itu. Kubaca ulang catatanku selama di kelas. Oh, ternyata menulis itu menyenangkan.

Aku jadi teringat dulu aku pernah ingin menjadi wartawan. Itu cita-citaku sewaktu SMP. Sampai-sampai aku menulis banyak berita yang aku ciptakan sendiri dengan gaya wartawan profesional, dan tentu saja hasilnya aneh. Lalu saat SMA aku terpilih sebagai wartawan sekolah oleh sebuah harian pagi lokal. Saat itu semangat menulisku kambuh. Aku tak bisa berhenti menulis dan membaca. Aku menulis belasan cerita pendek, berita karanganku sendiri, artikel tentang orang-orang terkenal. Aku juga selalu meluangkan 10 menit dari waktu belajar malamku untuk menulis diary yang sepertinya masih kusimpan rapi sampai sekarang. Sejak menjadi wartawan sekolah, beberapa berita lokal, artikel, dan cerpenku pernah dimuat. Inilah Golden Agesku.

Mau tahu bagaimana aku terpuruk setelah cukup semangat berkarya? Dua tahun selanjutnya aku menangis, saat mendapati kemampuan menulisku benar-benar tumpul. Sekedar menggambarkan latar tempat saja, hasilnya jelek. Itu karena aku tak pernah lagi LATIHAN MENULIS, tak begitu aktif menuliskan diary, tak lagi membuat berita karanganku sendiri, tak lagi mencoba-coba membuat cerita pendek. Pernah aku mengikuti lomba menulis cerpen di kampus, tapi kalah. Terang saja, kualitas tulisanku jelek.
So, why wait? BANGUN!

###
Barusan aku ngomong apa ya?

May 3, 2011

Relax


Selasa. Seperti biasa aku tak ada kelas hari ini. Juga tak ada lagi internshipku bersama murid-murid dari Saudi. Hari ini jadwalku hanyalah berkutat dengan project akhir. Di perpustakaan kampus, itu jawaban bagi siapapun yang ingin menghubungiku. Aku bahkan sering malas untuk sekedar bangkit mengambil jatah makan siangku di kafetaria kampus, perpustakaan tampaknya lebih menggodaku.

Aku sempatkan membuat tulisan ini, setelah menyelesaikan urusan di writing center lantai 1 perpustakaan, tempat semua mahasiswa berkonsultasi pada tutor tentang project mereka. Sebelumnya aku berada di lantai 2 untuk mengedit outlineku, lalu pergi membuat janji bertemu tutor. Saat itu pukul 1.30; aku punya waktu 30 menit untuk shalat dhuhur sebelum bertemu tutor. Hm, biasanya aku akan pergi ke lantai dua di bagian multimedia, meminta sebuah ruangan kedap suara yang dikhususkan untuk rekaman musik. Lalu pergi berwudhu di kamar mandi khusus untuk orang-orang disabilities, alasannya karena kamar mandi tersebut bilik krannya terpisah, sehingga aku bisa berwudhu dengan tenang. Lalu kembali ke ruangan kedap suara itu. Biasanya aku meminta yang tidak ada jendela, agar tak ada yang bisa melihat. Tapi kali ini ruangan itu ada yang menempati. Jadi aku shalat, dengan cukup jelas terlihat orang-orang yang lewat di dekat ruangan berjendela itu.



Seorang mahasiswa Amerika yang duduk di belakang meja informasi tempatku meminta ruangan tadi, tampaknya selalu tahu apa yang aku lakukan di dalam sana. Dia memang orang yang sama, seperti hafal kedatanganku ke ruangan rekaman itu hanya untuk shalat. ^^

Sekarang saatnya kembali berkutat dengan tugas akhir jurnalistik. :(