Showing posts with label diary of faith. Show all posts
Showing posts with label diary of faith. Show all posts

May 23, 2014

Marahlah yang Baik!



Marah?!
Ah! Saya pun masih belum sepenuhnya bisa melawan nafsu itu. Terkadang saat badan sudah begitu lelah, dan anak rewel, tidak bisa dibujuk, bawaannya marah-marah atau teriak-teriak :( Setelah itu baru deh menyesal, beristighfar sebanyak saya mampu. Ah, lemah sekali saya, jangan tergoda bisik syetan lagi dong!

Saya inginnya, dan sedang belajar juga, jika toh harus marah, mudah2an Allaah memudahkan lisan ini untuk tetap berucap yang baik-baik, ketimbang harus marah-marah. Seperti yang dilakukan oleh Ummu Abdurrahman as-Sudais terhadap bocah mungilnya yang sedang 'bandel2nya'. Saat itu, si Ummi sedang menyiapkan hidangan untuk perjamuan yang diadakan oleh suaminya. Ketika tiba-tiba Abdurrahman yang saat itu sedang asyik bermain pasir membawa segenggam pasir dan ditaburkannya ke atas hidangan tersebut. Si Ummi sontak marah dan berucap, "Idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” yang artinya “Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…!”

Allahu Akbar! Ketika sang bocah beranjak dewasa, Allaah kabulkan do'a Ummi yang luar biasa itu. Seperti kita tahu, saat ini bocah tersebut benar-benar menjadi seorang imam besar Masjidil Haram yang tartil qur'annya banyak didengar oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Ya, dialah Syeikh Abdurrahman as-Sudais!

Teringat pula akan hadis Arbain ke-16 yang berbunyi,
"Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah."
(HR. Bukhori )

Ya Allaah, ampuni hambaMu yang lemah ini, jika selama ini hamba masih sering marah-marah, itu disebabkan oleh kebodohan hamba semata, maka bimbinglah selalu lisan ini agar lantunan istighfar lebih banyak hamba ucap daripada gerutuan amarah. Ya Allaah, jikalau harus marah, mudahkanlah lisan ini untuk berucap hal-hal yang baik, sebab itu adalah do'a yang hamba tak tahu ucapan itu saat Engkau perkenankan do'a seorang Ibu. Aamiin...
"Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan doa kalian"
(HR. Abu Dawud) 


Apr 15, 2014

Sombong

Hikmah sore ini. Tentang Al-Kibr atau kesombongan.

Sungguh tidak pantas kita merasa sombong terhadap apa yang Allaah berikan pada kita. Ilmu? Amal? Ya Allaah, aku berlindung padaMu dari sifat kibr tersebut. Ilmuku, tak ada setetespun air di lautan ilmuMu yang Maha Luas. Amalku, tak ada seujung kuku dari amal orang-orang yang Engkau muliakan. Sesungguhnya aku berlepas diri dari hati yang memiliki kibr, ya Rabb...

Mari sama-sama bergandengan tangan, saling mengingatkan jika ada dari tindakanku yang tak sadar ternyata telah terjangkit al-kibr. Tolong sampaikan langsung di depanku, jika kalian melihatku melakukan perbuatan kibr, jangan dibelakangku. Bantulah aku yang sedang berusaha menghilangkan segala keburukan masa laluku. Hanya Allaah lah Yang Maha Tahu betapa berlumuran dosanya aku. Terima kasih banyak :) Kudo'akan agar Allaah menambahkan nikmat-Nya bagi kalian saudaraku, dan semoga Allaah selalu menuntun langkah kaki kalian. Do'akan aku juga... 

-Al-Wasi'i 

Apr 20, 2013

MEMOIR HIJAB SEGALA MUSIM


Oleh Mei Dianita

Perkenalan saya dengan hijab sebenarnya telah dimulai sejak kelas X SMA. Alkhamdulillah ahirnya saya berhijab meski saat itu masih tambal sana - sini. Namun lambat laun lantaran izinNya, hijab saya semakin benar dan syar’i, insyaAllah.
Maka izinkanlah saya berbagi kisah tentang pengalaman hijab saya di negeri 4 musim Amerika Serikat. Saya berada di sana untuk menempuh program pertukaran mahasiswa (Global UGRAD). Bagi saya sepuluh bulan adalah waktu yang pas untuk bisa menikmati aroma empat musim dan juga menikmati setiap skenario yang Allah tuliskan untuk saya.  

Oct 7, 2012

Cikgu

Suemiyati, 

Beliau adalah salah satu guru Matematika di sekolah saya menuntut ilmu, sekaligus wali kelas saat saya duduk di kelas X. Bu Emi, begitu kami memanggilnya, adalah salah satu sosok inspirasi saya dalam menghadapi liku2 dunia ini. 

Kelembutannya mengingatkan saya akan sosok Mama, ibu kandung saya yang jarang sekali saya temui. Sejak perceraian itu, saya tinggal bersama Bapak, dan belum tentu satu tahun sekali bisa bertemu Mama. Melihat Bu Emi, saya seperti menemukan penawar rindu, hanya dengan memandang wajahnya yang adem. Ibu Emi yang cantik itu sangatlah cerdas. Saya selalu mengagumi kecerdasan beliau, apalagi matematika termasuk daftar mata pelajaran yg harus saya kuasai. Sayang, saya tidak secerdas beberapa teman di kelas, hehe. Setiap jam pelajaran, beliau selalu, menanamkan nilai2 kehidupan, agar kita senantiasa bersyukur pada pemilik segala urusan. Beliau senantiasa memotivasi kami agarbersungguh-sungguh dalam belajar, agar tercapai cita-cita.



Banyak hal yang Bu Emi bagi tentang kerasnya hidup, dan bagaimana cara menghadapinya. Saya curcol kepada beliau tentang pertengkaran2 saya dengan Ibu tiri saya, tentang prestasi sekolah saya yang menurun, juga pernah tentang perasaan saya terhadap kakak kelas berbeda agama. Dengan kelembutannya beliau menenangkan saya- yng memang dipenuhi emosi remaja yang suka berfikir pendek kala itu. Alhamdulillah, banyak nasihat beliau yang saya praktikkan, dan kemudian saya syukuri sebagai bentuk kasih sayang Allaah pada hamba yang hina ini. Lewat beliau juga, Allaah pernah titipkan rezeki untuk saya. Mungkin saya tidak mampu mengingat semuanya, (semoga Allah mengampuni saya yang khilaf ini) namun beberapa yang akan saya ceritakan ini sangat menyentuh hati saya. Pertama saat saya harus daftar ulang di semester kedua saya. Waktu itu, biaya per semester masih 300 ribu. Saya hanya pegang uang 100 ribu hasil mengajar les Bahasa Inggris untuk anak-anak tetangga sekitar rumah. Bayarannya 10 rbu per bulan per anak, super murah, kan e:-) :-) Rencananya uang tersebut akan saya pakai untuk daftar ulang, sayangnya tidak cukup. Besoknya, saya beradu argumen dengan staf daftar ulang. Saya meminta izin untuk membayar 100 ribu dulu karena yaa belum ada uang lagi, Eeeh, Ibu tersebut tidak mau tahu alasan apa pun. Pokoknya harus lunas. Saya gelisah, karena hari itu hari terahir bayar. Lalu saya melihat ada bu Emi di kantor guru, saya menemuinya dan menceritakan kejadian tadi. Saya memohon agar bu Emi membantu saya membujuk staf itu untuk memberikan penangguhan waktu sampai bulan depan. Tanpa saya sangka, Ibu Emi malah menyelipkan dua lembar uang seratus ribuan ke dalam genggaman saya, sembari tersenyum. Ya Allaah, maksud saya sungguh hanya meminta beliau membujuk staf daftar ulang agar saya bisa bernafas lega, tapi bu Emi malah melunasinya. Saya sungguh tidak enak hati karena bukan itu maksud saya. Namun beliau meyakinkan saya bahwa rezeki kita datang dari jalan yang tidak terduga. Jazakillaah khayr Bu, semoga Allaah lipat gandakan apa yang pernah Ibu keluarkan...

Bu, ada satu hal yang membuat saya selalu mengingat Ibu, bahwa Ibu adalah orang pertama yang membuat saya tersanjung saat pertama kali menginjakkan kaki di SMA. Bahkan waktu itu masih daftar ulang siswa baru. Saat Ibu melihat saya Ibu bilang, "Ini Mei yang menang lomba pidato SMP itu ya? yang salaman sama pak bupati itu ya?"  :-) 

Ya Allaah, sayangilah guruku ini, limpahkan berkahMu padanya, selamanya... Aamiin    

May 5, 2011

ISLAM is PEACE

Probably you want to know more about Islam, how it was the Golden Ages for Islam world when the Western was in the Dark Ages. You might want to know how Islam could spread very rapidly throughout the globe. Then, watch this documentary, "Islam: Empire of Faith." You can also watch them in PBS.org. InsyaAllah, this three parts of documentary represent the true message of Islam.

Happy Watching!

Part 1


Part 2


Part 3



May 2, 2011

Palestina I'm In Love

Dari dulu saya ingin punya teman dari Palestina.

Alasannya karena saya mencintai tanah Palestina. Saya sering menangis tiap melihat penderitaan saudara-saudara di tanah para nabi itu. Makanya saya ingin punya teman Palestina yang seiman, yang bisa diajak diskusi dan berbagi tentang kondisi di sana. Rasa empati ini tak cukup jika hanya diungkapkan lewat do'a. Harus ada tindakan nyata.

Benar, saya memang tidak mempunyai kekuatan untuk membantu. Tapi saya masih mempunyai mimpi, untuk berjuang di sana dan ikut merasakan pengorbanan mereka. Ada rasa kemanusiaan yang kuat menghentak jiwa ini untuk menolong orang-orang tua, teman-teman, dan adik-adik di sana. Ada rasa kebencian yang membuncah di hati saat seorang teman asal Israel dengan bangganya menyebut itu tanah mereka.

Oleh karenanya, saya berbahagia saat siang ini,  mendapatkan satu teman baru, seseorang dari Palestina. Beliau seorang professor di kampus saya di US. Saya dipertemukan dengan beliau saat saya harus mewawancarai salah satu narasumber dari sebuah event Islami di kampus, untuk laporan di kelas Jurnalistik. Saya tidak menyangka beliaulah yang akan saya wawancarai. Akhirnya obrolan kami sampai melintas benua. Sampai ke Gaza, tempat di mana beliau berasal. Ada rasa sedih di wajahnya, saat beliau mengutarakan tidak bisa kembali ke Gaza musim panas ini. Kuutarakan juga padanya, aku ingin sekali mengunjungi Palestina. Beliau bilang "kemungkinan itu susah" tapi akhirnya beliau menguatkanku, "Tapi insyaAllah, kamu bisa ke sana." Syukran Jazeelan Dr. Saquer... ini akan menjadi langkah awalku menuju ke sana.

Biidznillah...

Apr 28, 2011

Q n A


Seorang teman asal Surabaya, yang sedang bersiap-siap menuju State, menyapa sya lewat fb :)   

Fulanah: Mbak ada pengalaman menarik selama di sana yg bisa di share? pengalaman yg unik tentunya, or culture shock yang anti alami wktu pertama kali sampe disana.... :):)
jazakillah...

Saya:
  • Jujur, culture shock pertama yg ana rasakan justru datang dari mahasiswa sesama muslim. Ana yang cekak pengetahuan global ini berfikir bahwa semua mahasiswa yg berasal dari kawasan Arabia semuanya baik, hanif. Tapi ternyata sama saja, bahkan bebrapa mungkin lebih memalukan. Kalau anti mendapati teman2 itu pergi dugem, got drunk, ngedance, gk jum'atan, jgn heran ukh. Sedih pastinya, karena harapan kita mereka bisa jdi contoh yg baik di US ini. Jdi msih bnyak org2 yg menganggap Islam sma sja dgn mereka.Tapi tenang, tidak sedikit juga yang alkhamdulillah bisa dijadikan tempat untuk berjuang bersama dan saling support.

  • Ana gk terlalu punya pengalaman unik nih kayaknya. Hm... mau cerita tentang kamar mandi aja dh. Jadi ana selalu waspada kalo mau buang air (ma'af) misalnya. Kita kan pasti perlu air ya, nah aku selalu ada botol air di tempat peralatn mandiku. Dan selalu mencuri2 kesempatan mengisi air dan masuk ke toilet, biar gk ada yg ngeliatin dgn aneh. Hm... agak ribet juga sih, tpi sudah berlangsung hmpir 1 tahun ini. Yah, kalo mereka ada yang liat dan tanya, bilang saja cara kita bersih2 ada sedikit beda.

  • Terus kalo mau wudhu, karena di lantaiku hanya tersedia community bathroom, jadi harus hati2 membuka aurat, apalagi 99% penduduk di lantai itu berbeda keyakinan. Di sebuah ruangan besar ada bilik2 kecil untuk mandi, terpisah dengan toilet. Juga ada bilik khusus untuk disability person, tempatku wudhu dengan tenang. Biliknya lebih besar, dan shower tubnya bisa dinaik turunkan, jdi enak ngaturnya buat wudhu, dan pastinya aurat kita aman. Ana gk mau wudhu di sink, gimana kalo tiba2 ada anak2 lain yg masuk. haha, pernah kejadian sih, aneh aja  mereka ngeliatnya. Kalau mau shalat di Library, biasanya banyak study room, jdi bisa shalat dsitu; dan wudhunya, cari bilik restroom buat disability person, karena biasanya, cuma 1 ruangan lumayan lebar, dan ada sink terpisah sendiri, jdi bisa wudhu sekhusuknya :):)

  • Hm, ana suka dikira sudah married sama temen-temen. Baguslah, jadi bagi teman2 cowok, gak bisa asal ledek dan diganggu. Sebabnya ana pakai cincin metal di jari tangan kanan, haha... padahal itu cuman "cincin mood" biasa. 

  • By the way, ana pernah baca artikel, kejadian seorang muslim lagi shopping di mall, terus dia pergi ke fitting room, mau shalat. Karena fitting room kn masih bisa keliatan sedikit bagian bawahnya, jadi bisa ditebak lagi ngapain orang itu. Pas dia sujud, ada staff yg melihat, terus dilongok ke bawah, "Are you okay, Sir?" hehe, dikirain dia kena heart attack. Kalo yang ini ana belum berani mencoba :)
Semoga bermanfaat,
Salam ~

Apr 25, 2011

Hijabmu

  • Hari itu Jum'at, 18 Maret 2011. Aku dan beberapa teman dari Indonesia sedang menikmati suasana pelabuhan di Waterproof, Washington DC. Tiba-tiba ada satu rombongan yang lewat di dekatku, mereka mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum sister... where are you from?" Sumringah kujawab salam mereka yang ternyata berasal dari Iraq. Bertemu saudara sesama Muslim di pelabuhan yang dipenuhi oleh orang-orang non-Muslim tentu sangat menarik, meski hanya lalu lalang saja. Tidak sempat berbicara banyak karena sedang mengejar urusan masing-masing. Tapi tahukah teman-teman, betapa indah rasanya mendapatkan salam di tengah kesibukan yang dipenuhi oleh urusan dunia? Ada air mata yang membasahi dinding hati yang seringkali kering ini. Ada kerinduan yang membuncah untuk segera bertemu dengan saudara-saudara ikhwah di tanah air. Hari Jum'at itu pun beberapa kali ada ucapan salam dari saudara-saduara Muslim dari berbagai penjuru dunia. Ke mana kulangkahkan kaki di kota itu, alkhamdulillah, ada salam, hangat sekali rasanya.

  • Esok harinya, kuharap ada salam lagi. Aku kembali ke pelabuhan itu, mengajak beberapa teman dari Thailand. Kusapu pandangan ke beberapa titik, tempat kubertemu saudara-saudara penebar salam itu. Aku berjalan naik ke luar area pelabuhan, melewati beberapa toko yang tak sempat kulihat kemarin. Tiba-tiba aku tersedak saat seorang laki-laki yang sedang duduk menikmati rokok bersama temannya di depan sebuah ruko mengucapkan kata-kata seperti salam, tapi tidak terucapkan dengan jelas. Dia mengulang-ulangnya sambil terus menghisab rokoknya. Aku berjalan pelan agar bisa membalas salamnya, jika dia memang mengucapkan salam untukku. Ternyata itu bukan salam. Begitu aku berjalan mendekat ke arahnya, dia mengucap "syalama semalaka semalaka..." Oh, itu ejekan. Laki-laki itu setengah tertawa saat aku berjalan menjauh. Astaghfirullah... semoga Engkau menguatkanku ya Allah. 



Kawan, coba tebak, kesamaan apa yang terdapat dalam dua kisah nyata di atas? Ya, Jilbab. Dengan memakai jilbab, maka bukankah seorang muslimah akan dikenali? Karena bukankah jilbab itu identitas, pembeda antara muslimah dan non-muslimah? Saudara sesama muslim menebarkan salam karena mereka mengenali jilbabnya. Bandingkan dengan muslimah yang tidak memakai jilbab, dalam situasi berada di manapun, siapa yang bisa menjamin bahwa ia sebenarnya seorang muslimah? Lalu bagaimana dengan ucapan salam, akankah orang-orang dengan yakin menyapa kita dengan "Assalamu'alaikum?"

Mari kita renungkan. Berbahagialah siapa pun yang saat ini berada dalam nikmat Islam, agama milik Allah azza wajalla. Allah memerintahkan para muslimah untuk memakai jilbab dan perintah untuk mengulurkannya, tentu dengan alasan yang sempurna, salah satunya adalah agar kita dikenali dan dihormati. Mungkin ada yang bertanya bagaimana dengan cerita kedua? Sudah berjilbab tapi tetap saja ada yang mengejek? Begini, lalu apakah kita akan menyalahkan jilbab sebagai perintah Allah hanya karena ada orang-orang yang tidak menyukai? Bukankah Allah ingin menguji kita dengan tantangan, untuk melihat bagaimana kita mampu melewatinya? Lagian, jangan perdulikan orang-orang yang mengejek itu, toh yang menilai tetap Allah. Justru perjuangan mempertahankan izzah sebagai "the real muslimah" di tengah tekanan orang-orang negatif, akan terasa lebih manis. Jangan sampai menjadikan alasan takut diejek sebagai alasan tidak berjilbab, atau alasan melepas jilbab, ok?

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).


Apr 21, 2011

Pejuang





 Masih ingat zaman keemasan peradaban Islam di bawah Dinasti Abbasid pertengahan abad 8-13? Bnyak ilmuawan muslim yang mampu memimpin dunia dengan temuan-temuannya, seperti Al-Khawarizmi yang menemukan AlGebra, Ibn Sina, the father of modern medicine dalam bidang kedokteran, Al-Jazary, the father of robotics, the inventor of crank and piston, Al- Idrisi yang menemukan bahwa bumi itu berbetuk bulat (globe), dan masih bnyak ilmuan Muslim yang lain.  

Saksikanlah, wahai generasi penerus peradaban Islam. Saatnya kita bangkit. Cahaya gemilang itu akan bersinar kembali. Percayalah...


Saya pun jadi teringat saat ikut Muktamar IMSA (Indonesian Muslim Society in America), saat syekh Omar Baloch, seorang cendikiawan muslim dari Al Furqan Institute of Qur’anic Healing, Chicago pernah menyampaikan dalam salah satu ceramahnya, bahwa memang benar peradaban paling maju dalam dunia barat saat ini bertumpu di Amerika Serikat, dan salah satu dedikasi yang bisa diberikan oleh AS adalah Universitas-Universitasnya. Banyak Universitas ranking teratas dunia dalam bidang Iptek berada di AS, maka hendaklah kita mampu memanfaatkan kesempatan emas ini untuk belajar semaksimal mungkin.

Ayoooo, generasi Islam harus cerdas, mampu berkompetisi dengan generasi peradaban barat. Jangan mau kalah.... enak aja kalah :P Apalagi kita gk hnya punya IQ (Intelectual Quotient) dan EQ (Emotional Quotient) seperti rata-rata mereka, tapi kita punya lebih, ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) sang kontributor terbanyak untuk kesuksesan yang diridhai Allah. Bi Idznillah...  


Apr 11, 2011

Here

Alhamdulillah ya Rabb, syukurku tak kan pernah henti atas segala nikmat yang Engkau berikan. Kau telah memeluk mimpi kecilku untuk bisa sampai dan belajar di sini. Menyaksikan kebesaranmu lewat indahnya semesta; dan kuyakin apa yang aku rasakan saat ini bahkan bukan setitik air di samudera tak berujung.

Ya, kuliah di universitas Amerika memang salah satu mimpi saya. Seperti layaknya mimpi, awalnya saya menganggap keinginan ini terlalu berlebihan. Apalagi saya bukan tergolong anak orang kaya, bahkan jauh dari itu. Sejak SD saya hanya mengandalkan beasiswa untuk bisa bayar SPP. Untuk melamar beasiswa ke luar negeri rasanya hanya membuat saya minder, secara saya pasti kalah pintar dengan yang lainnya. Namun pada dasarnya saya percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, kita hanya perlu mencoba. Masalah hasil, biar jadi urusan Allaah :) Maka jadilah saya mencoba mengirimkan lamaran ke Aminef. Hingga ahirnya saya dinyatakan lolos dan bisa terbang ke Amerika. Allahu Akbar! Indeed, He is the best of planners! 



Hal yang paling saya syukuri selama tinggal di sini adalah keleluasaan menjalankan ibadah. Sungguh, saya tidak menemukan diri saya oppressed by others, bahkan saya bisa leluasa bertemu dan sharing dengan saudara-saudara sesama muslim DARI SELURUH DUNIA! Allahu Akbar! I think all muslim ummah united and gathered to spread the message of Islam here in the states. If I may correct, We got lots of pious muslims who uphold the teaching of Islam, even though a few of them are very ignorant :( Again I thank ALLAH for every thing! 

Alhamdulillah ya Allah, saya yang tadinya seseorang yang sangat minder, menjadi lebih baik setelah ditempa di lingkungan baru ini. Ya Rabb, jangan pernah tinggalkan saya, peluk erat-erat diri ini, aamiin...

 






Hikmah

Hanya ingin sekedar berbagi, betapa kita jarang sekali berfikir bahwa segala yang kita alami itu atas campur tangan Allah, dan betapa Allah ingin agar kita mengambil pelajaran darinya. Berikut ini beberapa dari banyak peristiwa yang saya alami. Dengannya Allah ingin mengingatkan kelalaian saya, agar saya selalu berfikir bahwa Allah selalu mengawasi, kapanpun, dimanapun.


-Pernah suatu siang saat musim OSPEK di kampus Unila, saya dibuat malu oleh perasaan sombong saya sendiri. Saat itu sudah tahun kedua saya menjadi mahasiswa, ada perasaan sombong saat berpapasan dengan mahasiswa baru yang lewat di seberang jalan tepatnya di depan SMK N2 Bandar Lampung. Saya berjalan menuju ke kampus, berlawanan arah dengan para mahasiswa itu. Dalam hati saya ingin menunjukkan kemenangan saya telah menjadi mahasiswa duluan. “Begini nih mahasiswa itu jalannya…” batin saya sambil berjalan dengan membusungkan dada, menyapu pandangan pada mereka, melewati trotoar di depan SMK. Songong banget deh.
 

Apr 10, 2011

The Beginning

Dear Allah,

Sesungguhnya hanya rasa syukurku saja yang pantas kuberikan untukMu, atas segala nikmat yang tiap saat ada untuk makhluk kecilMu ini. Terima kasih ya Rabb Kau selalu mau mendengar tiap keluh kesahku, memberiku harap saat semua jalan seolah buntu, menemani langkah kecilku saat berdiriku pun goyah, dan tentunya Kau seringkali mengabulkan rengekanku, ketimbang menunda-nundanya.

10 tahun lalu aku berdo'a padaMu, agar aku bisa berjalan di belahan bumiMu yang lain. Kau pun mengabulkannya, meski hati kecilku mengatakan mungkin aku tak pantas memperolehnya. Aku harus bersaing dengan teman-temanku sendiri, tapi tiba-tiba aku muncul sebagai salah satu pemenang. Ya Rabb, lapangkanlah hati mereka unutk tidak berhenti memohon kepadaMu. Aku yakin tidak ada satu urusan pun di alam semesta ini yang lalai dari campur tanganmu. Semoga aku tidak termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan rezekiMu. Jagalah hatiku agar tetap tawadhu' wahai Dzat penggenggam ruhku...

"Lalu, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Qur'an 55:55)

Saat ini aku tengah berada di negeri yang 10 tahun lalu ingin kukunjungi. Di sebuah kota tenang bernama Springfield, jika dilihat dari peta dunia kota paling selatan dari negara bagian Missouri, USA. Aku di sini untuk menjalani hari-hari baruku hingga Mei tahun ini, berbaur dengan orang-orang yang mempunyai kultur sangat berbeda dengan negeri asalku. Menjadi seorang musafir di negeri mayoritas non-muslim banyak meninggalkan kesan mendalam. Sungguh, aku begitu menikmati hari-hari ini, dalam suka, juga duka.