Nov 14, 2015

''You're a man. But the day you raise your voice to your mother, you're not anymore.''

-Tariq Ramadhan

Oct 17, 2015

Negeri Asap

Siang kemarin udara di sekitar rumah kami berkabut asap. Bukan karena terkena imbas dari Riau, Jambi, atau Palembang, melainkan ada yang membakar limbah kering sisa panen singkong, tepat di samping rumah kami. Pembakaran yang hanya berlangsung beberapa jam itu SAJA mampu membuat nafas saya sesak, lalu bagaimana mereka yang tinggal di daerah darurat asap?

Sudah berbulan-bulan sejak tragedi asap pertama terjadi, namun masih belum ada titik terang, bahkan kondisi semakin darurat. Bayi, anak-anak, dewasa, hingga lansia menjadi korban tragedi asap. Berbagai penyakit pernafasan bermunculan, ISPA, sakit mata, alergi kulit, asma, dll. Pada ahirnya, masalah ini semakin carut marut. Pemerintah super lamban mengatasinya, macam jalannya kura-kura yang memikul sekarung pasir basah, tak banyak membantu. Bagaimana ini, asap makin melebarkan daerah kekuasannya hingga ke luar negeri. Seorang teman yang tinggal di Singapura menyampaikan bahwa udara di sana pun sudah ikut keruh akibat pembakaran ratusan hektar hutan itu. Ah, negeri ini, yang katanya dijuluki paru-paru dunia, nyatanya sedang menderita kanker paru-paru, yang mengasap mengangkasa, yang membunuh dengan sadis.
I'm absolutely sad, very much. Ya Allaah, ampuni dosa-dosa kami, jangan biarkan dosa-dosa ini menganiaya diri kami sendiri, sesungguhnya Engkau Rabb Yang Maha Pengasih.

Pour us with rains, with enough drops to live the Earth, Rabb... T_T

''...Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan kepadamu hujan yang lebat...''
(QS. Nuh : 10-11)

Oct 15, 2015

Ada Apa dengan 'Janji Joni?'

Janji Joni. Mungkin para pembaca udah pada lupa film lawas ini, secara rilisnya sudah10 tahun silam, yakni tahun 2005. Tahun segitu saya masih SMP, dan belum mulai nonton film. Sebenarnya di daerah tempat saya tinggal ada sebuah bioskop, namun karena penampakannya yang creepy dan tak terawat, lama kelamaan bioskop tersebut gulung tikar tepat pas saya lulus SMP. Baru setelah duduk di bangku SMA, saya mulai nonton film, itu pun nontonnya film download-an dan numpang nonton di lap top tetangga, hehe. Satu dekade kemudian, barulah, saya ketemu sama 'Janji Joni' :D Jadi, tulisan ini anggaplah semacam throwback ulasan yang mudah-mudahan ada manfaatnya.

Ada apa dengan 'Janji Joni'? Apa nilai dibalik janjinya itu? Sesungguhnya film ini menceritakan tekad Joni (Nicholas Saputra) sebagai pengantar roll film (day amd date) antar bioskop untuk melaksanakan pekerjaannya sebaik mungkin. Dua tagline selalu diusungnya, tepat waktu dan dapat dipercaya.

Alur cerita dimulai ketika Joni sampai di bioskop pertama dan berpapasan dengan seorang cewek cantik (Mariana Renata) yang di ahir cerita barulah Joni tahu namanya Angelique. Cewek itu tengah diomelin pacarnya, Otto (Surya Saputra) karena terlambat sampai di bioskop sehingga tidak bisa mengantri tiket untuk duduk di bangku tengah. Sikap perfectionist Otto inilah yang dalam beberapa saat ke depan menyebabkan mereka putus hubungan. Kembali ke Joni ya, nampaknya Joni jatuh cinta dengan gadis itu, diceritakannya pada projectionist Pak Ucok (Gito Rollies) tentang cewek itu. Selesai mengantar roll pertama, Joni bergegas ke bioskop kedua, lalu kembali ke yang pertama, dan kedua lagi. Dalam perjalanan menuju bioskop pertama untuk roll bagian terahir, terjadilah insiden yang membuatnya terlibat dalam kesemrawutan konflik. Motor Joni terhenti saat ia hendak menolong seorang kakek menyeberang; namun tiba-tiba motornya dibawa kabur maling, Joni berlari mengejarnya, tapu percuma. Ahirnya ia memutuskan untuk naik taksi. Joni yang sedang diburu waktu meminta supir taksi (Barry Prima) untuk mempercepat laju taksi, sebaliknya taksi berjalan santai, si supir mengajak ngobrol Joni yang menjadi tidak sabar. Di pinggir jalan ternyata ada seorang Ibu muda yang hendak melahirkan, ternyata ia adalah istri si supir. Joni yang hendak kabur dari taksi pun tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisi darurat itu, bahkan sesampainya di rumah sakit Joni harus masuk ruang bersalin, yang ahirnya membuatnya pingsan. Saat sadar, Joni langsung berlari kencang menuju bioskop pertama. Joni terus berlari menyusuri jalanan, melewati gang, dan ia kembali terjebak dalam kondisi di mana ia secara tidak sengaja bertanya pada aktor yang sedang syuting sinetron. Tertarik dengan acting natural Joni, sutradara film memintanya untuk ikut main dalam beberapanscene dengan dalih bahwa Joni harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Terpaksa Joni menyanggupi. Selesai menjadi figuran, Joni kembali berlari memburu waktunya yang tersisa, tinggal 30 menit lagi. Di gang lain yang dilewati Joni, ia melihat seorang cewek, Voni (Rachel Maryam) sedang dijambret (Fedi Nuril) yang kemudian ia tahu bernama Jeffrey; malangnya, semua itu hanya tipuan belaka, tas Joni yang berisi roll film yang malah dibawa kabur Voni. Waktu Joni semakin sempit, sngkat cerita, tas Joni sudah berpindah tangan ke tangan seorang seniman sinting (Sujiwo Tedjo) yang gemar mengoleksi barang curian. Setelah bertemu dan berdebat panjang, ahirnya Joni mendapatkan kembali tasnya dan langsung bergegas lari ke bioskop. Sementara itu para penonton nampak kecewa karena film harus menunggu, ahirnya mereka bubar. Sampai di bioskop, Joni terduduk lemas mengetahui dirinya telah terlambat, telah gagal memenuhi janjinya. Ia merasa kredibilitasnya rusak seketika. Saat itu Angelique muncul, dihiburnya bahwa Joni sudah melakukan yang terbaik, lagian cuman terlambat beberapa menit saja. Karena penasaran dengan ending ceritanya, Angelique meminta Joni agar projectionist memutarkan rol terahir itu untuknya. Happily ending, ahirnya Joni bisa duduk berdua Angelique, menikmati potongan terahir film.

Film yang berdurasi 85 menit ini nampak renyah dengan perkenalan tokoh utama dan tokoh pendukung yang disajikan secara kreatif. Beberapa aktor kawakan dan aktor muda berbakat semakin membuat film ini masuk daftar wajib tonton. Sebut saja Barry Prima, Gito Rollies, Robi Tumewu, Lukman Sardi, Ria Irawan, Tato Wiyahya, Aming, Tora Sudiro, dll. Pun demikian, film bergenre komedi romantis ini hanya boleh ditonton oleh yang sudah dewasa, sebab ada beberapa scene yang tak pantas ditonton anak-anak. Namun sepertinya sang pembuat cerita ingin menampilkan realita kehidupan di kota. Baiknya disensor, atau dihilangkan sama sekali.

Yang membuat film ini kemudian menarik untuk dibahas adalah bahwa dengan ide cerita yang sederhana, justru pesan yang ingin disampaikan bisa dengan mudah dirasakan oleh penonton. Pembuat film seperti ingin menyadarkan para penonton akan peran orang-orang yang seringkali dianggap remeh karena profesinya. Padahal sejatinya tanpa mereka, kita mungkin saja kita tak bisa menikmati kemudahan dan kenyamanan fasilitas, salah satunya profesi pengantar roll film (day and date). Pembaca diajak untuk ikut merasakan beban tugas mereka untuk mengantarkan roll tepat waktu, apa pun halangannya. Melalui perjuangan Joni yang luar biasa, kita diajak untuk lebih berterima kasih atas usaha mereka bersusah payah mengantarkan film. Di lain sisi, film ini juga hendak menunjukkan paradoks realita sosial yang terjadi di masyarakat tentang perbuatan baik tak selamanya dibalas dengan kebaikan, justru seringkali dibalas dengan keburukan. Masyarakat modern yang semakin rusak lagi apatis dan individualis menjadi sebab musabab kehidupan metropolis yang bengis. Aspek yang saya fikir juga ingin ditonjolkan adalah bahwa 'janji' adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

''Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?”


Gagal

Diikutsertakan, dikarenakan gak keburu daftar padahal sudah berhasil diposting. Tanya kenapa? Habis quota! T_T

Mar 10, 2015

''You usually can't stop people from talking about you behind your back, but you can certainly look forward to receiving their good deeds on the Day of Judgement :-) ''

- Saad Tasleem

Mar 6, 2015

[Hijab Syar'i atau Hijab Model?] Your Choice is Your Identity

''Gamis-nya mba, silakan masuk, boleh dilihat-lihat dulu, bergo-nya sekalian. Yang ini lagi model loh mba, mari-mari...''

Seorang penjual pakaian muslim di sebuah ruko pasar tradisional menyapa saya yang sebenarnya cuman numpang lewat saja. Saya hanya bisa tersenyum sambil bilang terima kasih. Lain waktu saya ditawarin aneka ciput (daleman kerudung), mulai dari ciput ninja sampai ciput onta, eh maksudnya ciput punuk onta. Lagi-lagi saya hanya bisa menolak dengan halus, alasan saya daleman kerudung saya belum habis :D

Lewat di depan toko pakaian muslim yang lain tak kalah seru.
''Jilbab gaulnya mba, lagi trend, warna-warni nih mba banyak, ayo silakan masuk..''
Saya pun kembali menolak dengan halus, dalam hati bilang emang situ gak lihat saya gak memiliki ketertarikan dengan jilbab gaul nan funky itu...

Hm, lagi-lagi negeriku terserang fenomena tren hijab. Jangankan di kota-kota besar, di kampung nan jauh dari ibu kota kabupaten pun tren hijab cepat sekali merayap. Di negeri ini apapun trend yang disuguhkan pencetus trend (trendsetter), maka cepat sekali diadopsi tanpa pilih-pilih. Itulah uniknya negeriku :D bahkan menempati negeri muslim dengan mode/fashion berhijab terlengkap di dunia!

But there is a big question in mind, are we proud of it?

Ngomongin hijab model yang banyak dijual di pasaran, maka sejatinya kita lagi ngomongin fashion design ala outfit muslim, yang mulai ramai digagas oleh fashion desainer, sebut saja mba Dian P. cs. Mulai dari bahannya yang macem-macem, dari yang super duper 'nerawang' (transparan), jatoh plek badan, hingga yang ngegantung kekurangan bahan, semua ada dalam satu toko. Gak ketinggalan aksesoris hijabnya, mulai dari yang standar seperti jarum pentul, bros blink-blink, head-band, sampe topi pelengkap. Gak sebatas itu, model/gaya berhijab muslimah pun semakin banyak diciptakan oleh para trendsetter itu, yang menurut saya 'kelewat kreatif' hingga tak memperdulikan batasan-nya lagi. Ada yang dililit ke belakang menyingkap dada, ada yang memanfaatkan lehernya buat jadi tiang lilit, ada yang meniru gaya Mickey-Mouse (berkerudung tapi memperlihatkan telinga), gaya yo-yo (yang membiarkan ujung kerudungnya terjuntai bebas hingga harus berkali-kali menarik ulur, gaya turban, street hijab, dll.

Yang paling parah adalah saat munculnya trend 'jilboobs' di kalangan remaja putri khususnya yang dengan bangga ber-selfie dengan buah dada-nya yang dibusungkan, sengaja menonjolkan yang 'dua' dan tak jarang bh-nya tercetak di outfit ketat mereka. Tahan nafas tuh kaum adam yang menikmatinya.

Kembali ke pertanyaan, apa kita bangga? Kali ini saya ubah pertanyaanya, apa bangganya kita dengan model hijab demikian? Model yang mengatas-namakan kecantikan dan nilai estetika, model yang membuat seorang muslimah merasa masih bisa modis dengan hijabnya. Bukankah itu merusak citra hijab sebagai dress-code seorang muslim? Tak malu-kah kita pada Pembuat aturan berhijab? Pembuat aturan ini bukanlah seorang manusia seperti fashion designer, melainkan Ia yang telah menjagamu siang-malam, yang masih memberimu nafas hingga detik ini. Dialah Allaah, tempat bergantung segala urusan. Bagaimana mungkin manusia membuat tandingan untuk aturan yang telah jelas disebutkan dalam kitab suci? Silakan buka kembali kitab suci Al-Qur'an yang menyuruh para wanita untuk mengulurkan kerudung (khimar) hingga menutup dada (Q.S An-Nuur: 31) dan mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh (Q.S Al-Ahzab: 59)

Jelas deh, saya gak bangga dengan maraknya hijab model, hijab funky, hijab gaul, atau apalah namanya itu. Setahu saya sih, hanya ada satu macam hijab untuk muslimah, yakni hijab syar'i.

Kalau kata Ust. Felix, kalau niat berhijab sudah karena Allaah, maka trend tak jadi soalan, yang penting bagaimana agar lebih ta'at dan syar'i.

Hijab syar'i yakni hijab yang menutup seluruh aurat, tidak menjadi perhiasan dan pusat perhatian, tidak tipis, tidak ketat, tidak menyerupai lelaki, tidak menyerupai wanita-wanita kafir, tidak berparfum dan bukan termasuk pakaian syuhrah. Pakaian syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal (yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia & perhiasannya) maupun pakaian yang bernilai rendah (yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya’). (Imam Asy Syaukani dalam Nailul Athar II/94).

Jelas kan, bagaimana ciri-ciri hijab syar'i yang sesuai syariat sangat berbeda dengan trend hijab model? Tinggal pilih mana, aturan Allaah atau manusia?

So, your choice is your identity! Choose it carefully!

''Artikel ini diikutsertakan dalam ''Hijab Syar'i Story Giveaway''




Silent Watcher!

Hijrah.

Setiap kali menyaksikan hijrahnya seseorang, entah apa yang kupikirkan. Syukur? Kagum? Apa kabar aku?

Orang yang tak pernah terpikirkan oleh kita untuk bisa berubah, ternyata bisa, dengan izin-Nya. MasyaaAllaah! Mereka yang sering kita cibir, kita remehkan, kita bilang 'meh' ternyata lebih Allaah cintai dengan ditunjukkan-Nya jalan kebaikan. Sedangkan kita, yang merasa sudah benar, sudah baik, sudah berbuat banyak untuk umat, sudah ikut berjuang di jalan dakwah, ternyata masih begini-begini saja! Terlalu sombong barangkali dengan ilmu yang dikuasai, terlalu bangga mungkin dengan amal yang terlihat.

Yang merasa sudah hijrah duluan-pun, apa kalian pikir kalian sudah aman? Sudah berapa banyak terlihat disekitar kita, seperti beberapa teman yang dulunya jauh dari agama, kini tampil luar biasa dengan rasa bangganya menyandang status sebagai muslim. Seperti terlahir kembali, masa lalu pun kini menjadi kenangan pahit, yang membuka jalan syukur hari ini. Lalu, sudah berapa pula yang tadinya aktivis rohis, kini berkubang dalam gemerlapnya dunia, menjauh dari apa yang dulu ia perjuangkan, memendekkan jilbab yang dulu terjulur panjang menutup dada? Tak ada yang bisa menerka, Allaah jualah yang Maha Kuasa membolak-balikkan hati hambaNya... Tengok saja beberapa artis yang dulu berpakaian pun nyaris telanjang, kini, tak sejengkal pun aurat dibiarkan terpapar, masyaAllaah! Atau yang tadinya tenar dengan goyangnya yang aduhai, kini semakin tawadhu' dalam bisnis syar'i-nya.

Sungguh, tak ada jaminan kita akan aman selamat, jika tetap kufur nikmat...

Jangan jadi silent watcher! Change or Die!

#EgoSlap

Feb 15, 2015

Writer's Block for Script-fighters

Writer's Block? Kita pasti sering atau paling tidak pernah mendengar istilah yang satu ini. Menurut definisi umum, writer's block adalah kondisi di mana seorang penulis kehilangan kreatifitas menulisnya dalam memproduksi suatu karya. Bisa jadi penulis kesulitan untuk menuliskan ide originalnya, tidak tahu bagaimana melanjutkan ide cerita selanjutnya, sampai pada kondisi di mana ia tak mampu memproduksi karya dalam beberapa tahun lamanya.[1]

Saya sendiri bukan penulis profesional yang karyanya sudah banyak dinikmati dan bermanfaat bagi umat manusia seperti beberapa idola saya, sebut saja Darwis Tere Liye, Asma Nadia, dan Kang Abik. Saya hanya seorang penulis blog amatir dan masih harus terus menulis untuk skripsi saya yang tak kunjung tamat (baca: wisuda) :-) Untuk itu, izinkan saya berbagi pengalaman pribadi, juga pengalaman dari mahasiswa tingkat ahir yang senasib dengan saya, tentang bagaimana rasanya berputar-putar dalam lingkaran yang beberapa mahasiswa menyebut skripsi sebagai, #scriptsweet, #scriptsweat, bahkan ada yang menyebutnya #scriptsh*t. Jika saya boleh menyimpulkan, dan ini berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi, hehe, bahwa mimpi paling buruk dari lamanya proses mengerjakan skripsi itu ada pada diri kita sendiri, termasuk yang kita sebut sebagai writer's block.

Writer's block, gimana sih ciri-cirinya? Sekarang acungkan jari bagi yang mengalami beberapa dari kelakuan berikut, ya? hehe,

√ Kita menunda memulai mengerjakan skripsi hingga DEADline nyaris membunuh kita...(Procractination)

√ Kita tidak tahu apa yang harus ditulis, dan hanya memandangi layar kosong di depan mata... (Blank page syndrome)

√ Alih-alih mengerjakan skripsi, kita malah menyibukkan diri surfing internet, FB-an, twitteran, main game, nonton TV, dan aktivitas gak penting lain. (Fleeing)

√ Kita merasa kesulitan meng-evaluasi diri dan terpenjara dalam ketakutan draft yang tidak sempurna. (Perfectionism)

Sumber gambar


Hayoo, ngaku aja deh kalo kita sedang menderita beberapa sindrom di atas, hehe. Bukan untuk dijadikan bahan ledekan ya, tapi itulah yang terjadi pada beberapa dari kita; dan saya yakin seribu persen bahwa tak ada dari kita yang menginginkannya. Beberapa teman bilang kelakuan itu seperti terjadi begitu saja, tanpa bisa dikendalikan. Oke sobs, sekarang tenangkan diri, duduk manis, tarik nafas dalam-dalam, dan bersiap melanjutkan membaca biangkerok dari kelakuan di atas (bukan pembenaran, ya) berikut ini.

Menurut jurnal yang baru saya baca[2], bahwa writer's block ini lebih dari sekedar masalah mental. Pakar neurologi telah menemukan bahwa aktivitas otak tertentu yang dominan berpengaruh terhadap kreativitas menulis. Sebelumny sudah pada tahu kan ya, kalau otak manusia terbagi menjadi tiga sistem, yang masing-masing melakukan fungsi yang berbeda. Yang pertama, batang otak (lizard brain) yang terletak di pusat sistem dan berfungsi menjaga fungsi tubuh seperti respirasi, digesti dan sirkulasi. Yang kedua, sistim limbik (leopard brain) yang mengelilingi batang otak dan berfungsi sebagai pusat emosi terhadap input sensori, termasuk dalam memutuskan untuk melawan atau menghindar jika ada ancaman. Yang ketiga, cerebral cortex (learning brain) yang mengelilingi sistim limbik dan memberikan kemampuan dalam menyelesaikan masalah, menggunakan bahasa dan angka, mengantisipasi masa depan, memotivasi diri, dll. Batang otak tersusun dari otak tengah, pons, medulla, dan Reticular Activating System (RAS) yang berfungsi memonitor informasi yag masuk dari panca indera dan menyaring apa yang kita ingin perhatikan atau abaikan. Fungsi RAS dapat berubah-ubah dari sistim limbik ke cerebral cortex, atau sebaliknya, tergantung informasi yang masuk.

Nah, kreativitas, termasuk kreativitas menulis akan ter-aktivasi saat RAS meng-aktivasi cerebral cortex, saat informasi yang masuk bersifat menenangkan, kegembiraan, sehingga pada saat otak kita rileks, kita bisa berfikir dengan jernih, termasuk terinspirasi untuk menulis. Sebaliknya, jika informasi yang masuk bersifat kegelisahan, ancaman, maka akan meng-aktivasi sistim limbik, sehingga kita akan merasa resistan terhadap kreativitas; dengan kata lain, disitulah biasanya writer's block muncul. Jika sudah begitu, tak heran kita akan mengalami beberapa kelakuan yang sudah saya sebutkan di awal. Jelas sudah ya, bahwa sistim limbik dan cerebral cortex berkompetisi satu sama lain tergantung input yang diterima RAS.

Jadi bagaimana solusinya?

Bagaimanapun juga jangan dijadikan alasan untuk berhenti menulis skripsi ya. Ada banyak cara untuk mengobati writer's block yang direkomendasikan para ahli. Intinya hal ini penting untuk menjaga suasana hati yang tenang agar cerebral cortex ter-aktivasi.

Beberapa teknik berikut termasuk yang dianjurkan para ahli
1. Belajar mengatur nafas dalam-dalam dan perlahan selama 5-10 menit. Penelitian menunjukkan teknik pernafasan ini mampu membuat sistim limbik menjadi kurang reaktif (Davidson: 556-557).
2. Olahraga secara teratur terbukti dapat mengurangi stres, tak hanya baik untuk kesehatan, tapi juga untuk cortex;
3. Mencoba berbagai teknik menulis seperti freewriting, clustering, mind-mapping, branstorming, dll. Robert Olen Butler dalam bukunya, justru menganjurkan untuk melakukan 'dreamstorming' daripada brainstroming. Banyak siswa-penulis yang merasa lebih rileks saat mereka harus lebih banyak berimajinasi daripada menulis, untuk memulai menulis cerita.
4. Membuat rutinitas menulis se-rileks mungkin. Misalkan dengan mengunyah bulir lemon tiap kali menulis. Jika setiap kali kita menulis, dan kita selalu mengunyah bulir lemon, maka tiap kali pula kita melihat, mencium aroma, dan merasakan bulir lemon, otak kita akan ter-asosiasi dengan aktivitas menulis, dan ini akan membangkitkan semangat menulis (hukum Hebb, di mana saat neuron distimulasi bersama, maka selanjutnya akan selalu teraktivasi bersama).

Selain itu jika boleh saya tambahkan, sering-seringlah sharing dan diskusi dengan yang sudah berpengalaman, karena itu juga akan memberikan energi positif bagi kita. Jangan takut salah, (khususnya bagi penderita sindrom perfectionism), karena yakinlah, tidak ada draft yang 100% sempurna, yah, namanya juga draft; go and meet you advisor :)

Nah, sekarang gimana? udah lega-an belum?

Overall, menurut saya semua teknik atau stimulasi itu akan sia-sia belaka jika tidak diimbangi dengan do'a :) Bagaimanapun do'a itu sangat mujarab untuk membuat cerebral cortex kita kembali rileks, dan bukankah Allaah sendiri yang menjanjikan akan memperkenankan keinginan kita jika kita berdo'a? :) Kalau saya biasanya membaca do'a berikut, yang artinya,
"Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.”

Sekian, mudah-mudahan bermanfaat, ya script-fighter :)

Footnote:
[1]http://en.wikipedia.org/wiki/Writer%27s_block
[2]Bane, R. (2010). The Writer's Brain. Creative Writing: Teaching Theory & Practices

Tulisan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway blog Cokelat Gosong 



Feb 1, 2015

Jangan jadi macam lalat haaa!

"Some people have the DISEASE of criticizing all the time. They forget the goods about others and only mention their faults. They are like flies that avoid the good and pure places and land on the bad and wounds. This is because of the evil within the self and the spoiled nature"

- Ibn Taymiyyah Rahimahullah




Jan 8, 2015

[ngigo']

"Gw ngerasa aneh ahir-ahir ini. Kayak bukan diri gw yang biasa, gw ngerasa ada yang beda. Kayak tiap kali gw mau ngomong baik, ni hati ama otak gw ribut mulu saling beradu hingga omongan yang jelek-lah yang ahirnya keluar dari mulut gw. Sistem kontrol gw kacau hingga ke titik nadir. Gw sibuk cari pembenaran atas omongan keji barusan. Gw kayak kerbau aja. Bukan karena gw bau, tapi karena gw ngerasa gak berdaya saat ego gw mencucok hidung gw dan gw cuma bisa pasrah. Tapi sebenanrnya gw sadar akan kemelut ini. Ada seseorang yang berusaha merasuki jiwa raga gw, berharap sisa hidup gw jadi belangsak. Seseorang itu ternyata punya nama. Gw sendiri sih yang kasih dia nama. Namanya 'Villain', lengkapnya 'the Evil Villain'....

[Cil], lo sebagai satu-satunya sohib gw, pasti lu ngerasa simpati ama gw sekarang. Bagaimana pun gw kan satu-satunya sahabat lo yang udah pernah kasih pinjeman cash buat lu bayarin tunggakan spp. *Eh, OMG, gw... kok jadi ngebahas itu sih? Sumpah gw gak ada niat buat ngungkit-ngungkit hal itu, Cil. Sumpah. Maafin gw yak. Oke, paling tidak lu percaya sekarang gw gak seperti yang dulu (cieh), barusan yang ngungkit-ngungkit pinjeman itu si Villain, Cil... please lo maapin gw.

[Cil], kenapa lo diem aja? Apa karena lu gk ngerti arah pembicaraan ini? Atau jangan-jangan, lu emang bingung 'Villain' macam apa yang lg gw ocehin? Hm, pastinya lu bingung, lu kan tau-nya villain yang ada di dongeng pengantar tidur itu, kan? atau villain yang ada di serial 'the Avengers', Marvel Oh Marvel...? Ngaku aja deh lu Cil, kalo lo itu penggemar berat Hulk? atau Capt. America, barangkali? Kalo villain yang ada di cerita narasi macam itu udah jelas gampang ditumpas ama para superhero, nah yang villain ini susaaaah pake banget, Cil. By the way, masak ia sih superhero itu sesempurna itu ya, Cil? mpe gak ada cela-nya. Pernah gak sih, lu bayangin superhero itu uring-uringan sebab gak bisa bayar tagihan listrik? sebab skripsinya gak kelar-kelar? (Ha! emang gw). Maksud gw, pernah gk sih superhero itu berada dalam titik jenuh, hingga ahirnya mereka ngelakuin tindakan konyol yang menyakitkan orang lain? Aih, tapi jangan samain gw ama superhero itu ya Cil, gw mah gak ada apa-apanya. Gw cuman... apa ya?... gw cuman 'watcher' aksi mereka, kayak elu :D

[Cil], elu masih terjaga kan? elu masih setia dengerin suara emas gw ini, kan, kan, kan? Hehe. Gw sih berharap elu jangan jauhin gw ya, meski sekarang gw dominan villain. Gw butuh sohib kayak elu Cil. Please, sering-sering ingetin gw buat 'muhasabah' cieee, gw baru berani pake ni bahasa. Yah, buat sering-sering instropeksi gitu deh. Gw sadar sebagai manusia biasa pasti adakalanya gw lelah, jatuh, tersungkur, penuh lumpur dosa, gw kacau, gw larut dalam kesesatan... Please, gw gak mau Cil, karena siapa tahu pas gw lagi belangsak gitu, sang ajal datang ngejemput gw dengan paksa, dengan berdarah-darah, dengan kesakitan yang luar biasa Cil... gw takut...

Tapi, elu beneran janji mau bantuin gw ya, Cil? bantu nyariin potongan puzzle yang bisa balikin hidup gw biar lebih baek. Tenang, gw kan cuma minta tolong cariin potongan puzzle, bukan potongan tulang rusuk, hehe...

[zzzzz...]

Jan 7, 2015

Pesan dari Mumbay untuk Delhi

Masih tentang penyelamatan ekologi ya. Kali ini ada sebuah film stereoskopik animasi 3D yang kerennya kebangetan menurut saya. Film animasi yang berjudul 'Delhi Safari' besutan sutradara Bollywood Nikhil Advani ini pertama tayang tahun 2012 dengan mengusung dua versi bahasa; Hindi dan Inggris. Karena saya cuma nyambung yang berbahasa Inggris, jadi ya ulasan ini saya buat sesuai yang udah saya tonton.

Film ini menggambarkan perjalanan lima ekor hewan liar dari Mumbay ke Delhi dengan cukup heroik demi menuntut keadilan atas dirusaknya rumah mereka menjadi kawasan rekreasi. Kelima karakter utama dalam film animasi berdurasi 92 menit ini adalah Yuvi (anak leopard), Begum (Ibu Yuvi), Alex (Beo yang bisa bahasa manusia), Bajrangi (monyet), dan Bagga (Beruang). Ceritanya bermula dengan scene Yuvi yang terpukul atas tewasnya Sultan, ayah Yuvi. Pagi sebelumnya Sultan sedang mengajari Yuvi bagaimana menjadi leopard yang gagah dan tangguh. Mereka berdua saling kejar, berguling, menggeram, hingga ibu Yuvi, Begum, yang super protektif marah pada Sultan karena ia takut Yuvi akan celaka. Layaknya film Bollywood yang khas dengan drama musical-nya, beberapa scene dalam film ini juga diiringi dengan beberapa soundtrack. Adegan Sultan dan Yuvi merayu Begum pun jadi semakin menarik dengan iringan musik dan lagu. Begitu suasana kembali baik, tiba-tiba terdengar suara serombongan buldozer yang datang mencerabut pepohonan, merusak segala yang ada untuk diratakan dengan tanah, dan membunuh para binatang liar itu. Sultan dan Yuvi lari sekuat mungkin dari kejaran buldozer. Begum yang juga berada di sana berhasil meyelamatkan diri. Sementara Sultan dan Yuvi menjadi incaran buldozer yang kian melaju ganas. Saat situasi terjepit dan Sultan terkepung buldozer, ia lemparkan Yuvi ke arah Begum agar selamat. Sultan sendiri tewas ditembak. Bajrangi, seekor monyet pmberani namun konyol, terbakar amarah hingga ia menyerukan perang pada manusia. Adegan konyol menggelitik dimulai saat tak ada seekor pun hewan yang menyambut seruannya, kecuali dua ekor monyet lainnya. Kesepakatan dibuat bahwa mereka akan bicara langsung pada manusia. Permasalahannya siapa di antara mereka yang bisa bahasa manusia. Seekor Pigeon mengetahui ada seeokor beo, Alex yang bisa bicara bahasa manusia. Atas ide cemerlang Yuvi, mereka menculik Alex yang tinggal dengan majikannya; untuk membujuknya membantu mereka bicara pada manusia. Mereka memutuskan untuk memulai perjalanan menuju Delhi, ibukota India, dan bicara pada pemegang kuasa, parlemen agar mendengarkan derita mereka. Akankah mereka mendapatkan apa yang diinginkan? Lalu pertanyaan apa saja yang ingin mereka sampaikan pada parlemen? Temukan jawabannya, hanya di Delhi Safari :-)

Dialog yang kadang menggelitik juga kerap mewarnai film animasi yang telah memenangkan nasional award untuk 'Best Animation Film' tahun 2012 dan masuk nominasi Oscar ini. However, ada adegan singkat yang saya fikir perlu dipotong saja karena ber-unsur 'vulgar', yakni saat Alex yang piawai 'mem-video shoot' itu sedang merekam adegan majikannya yang sedang bermesraan dengan wanitanya. Tidak baik jika ada anak-anak yang ikut menonton, padahal secara keseluruhan konten film ini sangat bagus dan mendidik. Pesan moralnya sungguh terasa di ahir adegan, sampai-sampai saya merinding mendengarnya :-)

So, happy watching :-)